Ratusan Pohon Duku di Merangin Mati Diserang Hama Penyakit - visi jambi

Home Top Ad

Minggu, 31 Desember 2017

Ratusan Pohon Duku di Merangin Mati Diserang Hama Penyakit

VISIJAMBI.COM, BANGKO - Pemasaran duku Merangin ke luar daerah hingga berton-ton, kini sudah tidak ditemukan lagi. Produksi duku Merangin sudah sangat jauh berkurang dan hanya cukup untuk kebutuhan lokal.
Hal itu diakui oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikurtura Merangin, Rumusdar. Dia mengatakan, tidak bisa dipasarkan ke luar daerah duku Merangin karena pohonnya sudah banyak yang mati.
"Memang pohon duku kita saat ini sudah banyak yang mati karena sakit. Ini terjadi sejak satu tahun terakhir ini," ungkap Rumusdar kemarin.Padahal sebutnya, pohon duku merupakan salah satu ikon kabupaten Merangin. Sebab memiliki ciri khas tersendiri dari duku yang terdapat di daerah lain."Duku Merangin itu aromanya khas, rasanya manis dan bijinya kecil bisa langsung dimakan," sebutnya.Diungkapkannya, biasanya kapan datang musim, duku Merangin di jual keluar daerah hingga berton-ton. Namun kini hal seperti itu sudah tidak bisa dilihat lagi. "Kalau dulu, pedagang bawa dukukita hingga ke pulau Jawa berton-ton. Tapi kini hanya cukup untuk lokal saja karena pohonnya sudah banyak yang mati," akunya.

Sebutnya, pohon duku di Merangin hampir terdapat di semua wilayah, terutama di wilayah Kecamatan Sungai Manau dan beberapa kecamatan di Tabir. Namun kini pohon duku tersebut beransur berkurang. "Tahun kemarin di wilayah Sungai Manau ratusan pohon duku mati dan kini terjadi lagi diwilayah Tabir," sebut Rumusdar.
Katanya, pohon duku tersebut mati karena terserang penyakit. Dimana awalnya duan menguning hingga akhir mati hingga ke akar-akarnya.
"Seperti serangan jamur. Kalau sudah terserang tidak bisa di tolong lagi. Agar tidak merambah ke pohon yang lain pohon yang sakit tersebut harus dimusnahkan dengan dibakar," jelasnya.
Sejauh ini sebutnya, penyebab sakitnya pohon diduga karena adanya perlakuan yang diberikan terhadap pohon tersebut. Sebab selama ini banyak petani yang menjual dukunya ke pedagang dengan sitem borong batang.
"Karena sistem borng batang tersebut, para pedagang memberikan bahan perangsang agar dukunya bisa masak serentak. Mungkin karena itu seperti terjadi di sungai Manau," tuturnya.(pit)

Laporan wartawan Tribun Herupitra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar