Pria dari keluarga sederhana & tak lulus kuliah ini jadi miliuner di usia 35 tahun - visi jambi

Home Top Ad

Jumat, 06 April 2018

Pria dari keluarga sederhana & tak lulus kuliah ini jadi miliuner di usia 35 tahun

Spotify. ©2016 Techworm

Visijambi.com, Daniel Ek, pria plontos yang merupakan salah satu pendiri atau Co-founder dari Spotify kini duduk di jajaran miliuner dunia. Dia meraup kekayaan dalam jumlah besar setelah perusahaan streaming musik Spotify yang dipimpinnya mengalami kenaikan valuasi setelah melantai di bursa.

Saat IPO pada Selasa waktu setempat, nilai valuasi Spotify dilaporkan melonjak ke angka USD 26 miliar. Daniel Ek memiliki 9 persen porsi saham di perusahaan tersebut.

Kekayaan Daniel Ek kini bertengger di angka USD 2,5 miliar di usianya yang ke-35. Dia menambah panjang miliuner yang memperoleh kekayaan lewat bisnis digital. Meski kini mampu duduk sebagai CEO dari salah satu perusahaan tersukses dunia, perjuangan panjang dan berat harus ditempuh Daniel hingga bisa berdiri di posisinya sekarang.

Pria berkepala plontos ini bukanlah lahir dari keluarga berada, dia besar di sebuah kota kecil di Swedia. Dia lahir dari ibu yang berprofesi sebagai seorang penyanyi opera dan pianis.

Sementara ayah kandungnya, meninggalkan Daniel sejak dia masih kecil. Ayah tirinya bekerja di bidang teknologi. Inilah cikal bakal dari kesukaan Daniel di bidang musik dan teknologi.

Jiwa pengusaha memang sudah diperlihatkan Daniel Ek sejak kecil. Di usianya yang baru 14 tahun, dia sudah membuka bisnis. Keuntungan bisnis dia gunakan untuk membeli video game.

Saat beranjak dewasa, Daniel berhasil masuk kuliah di Royal Institute of Technology. Namun sayang, karena dia merasa ilmu yang didapat hanya berkutat seputar teori saja, Daniel pun memutuskan keluar dari kuliahnya. Dia lalu membuat program dan menjual hak patennya ke beberapa perusahaan.

Daniel Ek Bussiness Insider

Sukses dengan programnya, dia mendapat bayaran hingga USD 1 juta. Di usianya yang masih 23 tahun, Daniel menggunakan uang tersebut untuk bersenang-senang. Dia membeli apartemen dan mobil mewah di Swedia. Tapi sayang, hal tersebut hanya tidak bisa membuatnya berkecukupan.
"Dulu, saya hanya ingin terlihat keren," tutur Daniel seperti dilansir Business Insider.

Gamang dan bingung dengan kehidupannya, Daniel akhirnya melego mobil mewahnya dan pindah ke rumah yang lebih dekat dengan orang tuanya. Hari-harinya diisi dengan meditasi sembari sesekali bermain gitar.

Dari sini muncul ide mengembangkan bisnis Spotify. Silakan klik selanjutnya.

Tak disangka, dari sanalah muncul ide untuk mendirikan bisnis yang menggabungkan teknologi dan musik. Demi mewujudkan keinginannya ini, dia juga berkenalan dengan Martin Lorentzon yang kemudian menjadi partner-nya di Spotify.

Dalam membangun Spotify, Daniel dan Martin melalui begitu banyak tantangan. Salah satu yang terberat adalah mencoba meyakinkan label musik bahwa model bisnis yang dijalankannya bisa menguntungkan.

"Ini ide hebat, aku waktu itu yakin pasti berhasil," kata Daniel.

Di tahun 2008, Spotify pertama kali diluncurkan di negara Skandinavia, Prancis dan Inggris. Butuh waktu tiga tahun setelahnya Spotify baru bisa masuk ke Amerika Serikat.

Editor : syahyudin
Sumber : liputan6.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar